Logo SantriDigital

rajin belajar

Ceramah
A
Agus Muslim
3 Mei 2026 5 menit baca 0 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ و...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿ يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ﴾ (المجادلة: 11) رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang terhormat para alim ulama, para kyai, para asatidz dan asatidzah, yang senantiasa menjadi lentera ilmu bagi kita. Wabil khusus kepada Bapak Pimpinan Pondok Pesantren [Nama Tokoh/Pimpinan], dan kepada seluruh panitia pelaksana acara yang berbahagia. Serta tak lupa, salam hormat dan cinta saya haturkan kepada seluruh santri dan santriwati, para calon pemimpin masa depan, para penimba ilmu Allah yang luar biasa! Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan kita limpahan rahmat, nikmat sehat, dan kesempatan untuk berkumpul di majelis yang penuh berkah ini. Shalawat serta salam semoga tercurah limpah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang setia hingga akhir zaman. Hari ini, kita akan bersama-sama menggali suatu tema yang sangat penting, khususnya bagi kita para pelajar, yaitu tentang "Rajin Belajar". Nah, kalau dengar kata "belajar", kira-kira yang terbayang apa nih? Buku? Catatan? Atau mungkin, PR yang menumpuk tak terhingga bak gunung Everest? Hehehe. Saudara-saudariku yang diberkahi Allah, belajar itu bukan sekadar kewajiban, tapi sebuah investasi jangka panjang yang hasilnya akan kita nikmati dunia akhirat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Mujadalah ayat 11: ﴿ يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ﴾ Artinya: "Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." Lihat! Allah sendiri yang menjanjikan akan mengangkat derajat orang yang berilmu. Jadi, kalau ada yang merasa sering dipandang sebelah mata, mungkin ilmunya belum terangkat. Tapi ingat, ilmu itu bukan cuma hafalan mathla' 'uluman atau nahwu sharaf, lho ya. Ilmu itu luas! Dalam Islam, menuntut ilmu itu sangat dianjurkan, bahkan diwajibkan. Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya: "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani) Ini perintah langsung dari Rasulullah! Jadi, kalau ada santri yang malas belajar, ibaratnya lupa sama perintah dari bos besar sekaligus guru terhebat kita. Bisa jadi, bukan malas belajar, tapi mungkin metode belajarnya kurang pas. Makanya, ada yang bilangnya, "Bu, saya tuh belajar, tapi kok lupa terus ya? Kayaknya otak saya ini buntu kayak jalan tol pas mudik lebaran." Hehehe. Nah, untuk mengatasi kebuntuan itu, ada beberapa tips jitu. Pertama, niatkan karena Allah. Ingat, Allah senang sama orang yang berusaha. Kalau niatnya sudah lurus karena Allah, insya Allah belajar jadi lebih ringan. Jangan sampai niatnya cuma biar dapat pujian dari guru atau biar bisa pamer ke teman. Nanti kalau pujiannya hilang, semangatnya juga ikut hilang. Kan sayang, energi sudah dikeluarkan, tapi pahalanya ke mana-mana. Kedua, buat jadwal belajar yang teratur. Jangan begadang nonton drakor sampai subuh, terus paginya ngantuk di kelas, giliran ditanya guru, "Ini kenapa ngantuk?" Jawabnya, "Semalam saya bermimpi bertemu malaikat, Ustaz." Padahal, yang ditemui malaikat *Zzzzzzz*. Jadwal yang teratur itu seperti kita makan, ada waktu sarapan, makan siang, makan malam. Belajar juga perlu porsi dan waktu yang pas. Ketiga, cari metode belajar yang menyenangkan. Bosan baca buku? Coba diskusi sama teman, bikin rangkuman kreatif, bikin mind map, atau manfaatkan teknologi yang ada. Dulu mungkin mau cari ilmu harus naik kuda, sekarang tinggal pencet HP. Tapi ingat, HP itu dua sisi mata pisau. Bisa jadi sumber ilmu, bisa jadi sumber kemunduran moral. Jadi, bijak-bijaklah dalam menggunakan gadget. Keempat, jangan takut bertanya. Kadang, kita malu bertanya karena takut dianggap bodoh. Padahal, dalam pepatah Arab dikatakan: "Orang yang malu bertanya, akan tersesat di jalan." (من سأل تعلم، ومن استحيى ضل) Nah, kalau kita sudah tersesat, nanti pas ujian bisa-bisa jawabannya malah nyasar sampai ke planet lain. Jadi, jangan sungkan bertanya kepada guru, asatidz, atau bahkan teman yang lebih paham. Ingat, para santri sekalian, ilmu itu adalah cahaya. Tanpa ilmu, hidup kita akan gelap. Ibarat orang buta yang berjalan tanpa tongkat, pasti akan mudah terperosok. Dan orang yang berilmu, akan selalu dicari keberadaannya, bahkan oleh Allah SWT. Coba bayangkan, Allah saja mencarinya, apalagi kita? Hehehe. Ulama besar seperti Imam Syafi'i rahimahullah, sampai rela berpuasa dan menahan diri dari banyak hal demi mendapatkan ilmu. Al-Imam Asy-Syafi'i berkata: "Aku mengeluh kepada Waki' tentang buruknya hafalanku. Lalu beliau menunjukkanku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahuku bahwa ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat." (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi'i) Kisah guru kita, para kyai, para asatidz, mereka semua adalah bukti nyata bagaimana perjuangan menuntut ilmu itu tidak kenal kata lelah. Mereka mengorbankan waktu, tenaga, bahkan seringkali urusan duniawi yang lain, demi bisa menyajikan ilmu terbaik untuk kita. Jadi, jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Rajin belajar itu bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang tua kita, untuk agama kita, dan untuk bangsa ini. Bayangkan, kalau semua santri rajin belajar, nanti keluar dari pondoknya jadi dokter yang amanah, jadi insinyur yang handal, jadi ulama yang bijak, jadi pemimpin yang adil. Wah, keren kan? Maka, mari kita semangat dalam menuntut ilmu. Jadikan setiap detik waktu kita berharga. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena dulu malas belajar. Nanti kalau sudah tua, mata sudah rabun, gigi sudah copot, mau baca kitab sudah susah. Waktunya dulu dipake buat main game, sekarang nyeselnya minta ampun, mau balas dendam sama buku tapi badan sudah nggak kuat. Jadi, mulai hari ini, ayo kita komitmen. Belajar itu ibadah. Belajar itu jihad. Belajar itu tangga menuju surga. Mari kita bersungguh-sungguh, seraya memohon pertolongan kepada Allah SWT. Baiklah, para santri dan santriwati yang saya cintai karena Allah. Mungkin hanya ini yang bisa saya sampaikan. Intinya, jadikan belajar sebagai kebiasaan, nikmati prosesnya, dan jangan pernah menyerah. Karena orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa, dan salah satu jalan menuju ketakwaan adalah ilmu. Semoga Allah senantiasa memudahkan langkah kita dalam menuntut ilmu, memberikan kita kemudahan dalam memahaminya, dan mengamalkannya. Aamiin. Sebelum saya mengakhiri, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada tutur kata yang kurang berkenan, ada kalimat yang salah, atau mungkin ada lelucon yang garingnya minta ampun. Sekali lagi, mohon maaf lahir batin. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →